Yahya Aceh: Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia di Deli Serdang dan Medan

Pada tahun 1945, saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung, Laskar Rakyat menjadi salah satu garda terdepan dalam melawan penjajah NICA Belanda dan sekutunya. Di balik perlawanan yang gigih ini, terdapat nama Yahya Aceh, seorang tokoh yang memimpin pasukan dalam pertempuran di Deli Serdang dan Medan. Kisah perjuangannya tak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga menginspirasi generasi penerus untuk menghargai makna kemerdekaan.
Yahya Aceh: Pemimpin Perjuangan yang Berani
Yahya Aceh, yang lahir dengan nama asli Yahya Ibrahim di Banda Aceh pada 15 November 1922, merupakan salah satu pemimpin Laskar Rakyat Napindo yang berjuang dengan gigih. Di usia 25 tahun, ia sudah memimpin sebuah regu yang terdiri dari pasukan Laskar Rakyat dan beberapa tentara Sekutu yang membelot dan bergabung dalam perjuangan kemerdekaan.
Struktur Komando Laskar Rakyat
Dalam memimpin resimen Laskar Rakyat, Yahya Aceh dibantu oleh Kapten Nip Xarim. Untuk memastikan efektivitas komando, Medan Area dibagi menjadi empat sektor strategis. Masing-masing sektor dipimpin oleh:
- Sektor Barat: Kapten Abdul Hamid
- Sektor Timur: Yacub Lubis
- Sektor Utara: Barani Pohan
- Sektor Selatan: Yahya Ibrahim (Yahya Aceh)
Di samping itu, pasukan istimewa Pesindo Andalas Utara dipimpin oleh Aladin Sitompul. Di bawah kepemimpinan Yahya Aceh, Laskar Medan Area Selatan terlibat dalam pertempuran di berbagai daerah seperti Medan Barat, Hamparan Perak, dan Tanjung Morawa.
Perjuangan di Medan dan Deli Serdang
Batalyon IV yang dipimpin oleh Yahya Aceh memiliki struktur komando yang solid. Di antaranya adalah Munir sebagai wakil komandan dari Barisan Merah, serta beberapa komandan kompi yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti Abu Bakar Bop dari Napindo dan Mustafa Samah dari Pesindo. Batalyon IV beroperasi di daerah Tanjung Morawa, dan resimen ini dibentuk pada 10 Agustus 1946. Namun, pada 7 Januari 1947, resimen ini dibubarkan dan digantikan oleh Komando Medan Area di bawah pimpinan Letkol Soecipto.
Penghormatan kepada Para Pejuang
Sejumlah anggota Laskar Rakyat yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda dan sekutunya mendapatkan penghormatan terakhir di Makam Pahlawan Lubukpakam dan Tanjung Morawa. Sementara itu, setelah proklamasi kemerdekaan dan Presiden Soekarno menjabat, Yahya Aceh pindah ke Jakarta dari kediamannya di Jalan Sei Ular, Medan. Beliau menghembuskan napas terakhir dan dikebumikan di pemakaman umum Jakarta.
Warisan Sejarah dan Pengaruhnya
Kisah kepahlawanan Yahya Aceh yang berani melawan penjajah di Medan dan Deli Serdang merupakan warisan yang tak ternilai bagi generasi mendatang. Meskipun berasal dari Aceh Besar, Yahya memilih untuk merantau ke Medan dan menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ini menunjukkan komitmen dan dedikasinya dalam memperjuangkan kebebasan bangsa.
Refleksi pada Momen Penting
Memperingati perjuangan para pahlawan seperti Yahya Aceh sangat penting, terutama pada saat HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Mengingat jasa-jasa mereka yang telah berkorban demi kemerdekaan, generasi muda diharapkan untuk tidak melupakan nilai-nilai perjuangan tersebut. Mereka telah berjuang dengan darah dan nyawa untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan asing.
Dokumentasi Sejarah Perjuangan
Letnan Kolonel Pur Mansyur, yang menyusun buku sejarah perjuangan gerilya berjudul “Jembatan Emas 1945”, menuliskan kisah pertempuran Laskar Rakyat Komando Medan Area Selatan di bawah pimpinan Yahya Aceh. Sayangnya, jumlah buku tersebut terbatas, sehingga hanya beberapa orang yang memiliki salinan. Namun, pihak Disporabudpar Kabupaten Deli Serdang telah memiliki salinan dari buku “Jembatan Emas” yang berharga ini.
Profil Penulis Buku Sejarah
Letnan Kolonel Purnawirawan NRP 12195, yang lahir pada 27 Juli 1927, adalah penulis buku “Jembatan Emas 1945”. Ia menempuh pendidikan di Perguruan Taman Siswa selama tujuh tahun dan SMA Lembaga Pengetahuan Umum Angkatan Darat. Setelah menyelesaikan pendidikan militernya di Cimahi pada 1950, ia melanjutkan ke kursus perwira lanjutan di Bandung pada 1957.
Persiapan Menyambut Proklamasi Kemerdekaan
Pengabdian Letnan Kolonel Pur Mansyur bersama 52 pemuda di Fuzi Dori No. 6, yang kini menjadi lokasi Hotel Dirga Surya Medan, bertujuan untuk mempersiapkan barisan pemuda menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI di Medan. Setelah itu, ia menjadi pelatih Hizbullah di Medan Timur dan bergabung dengan pasukan persatuan perjuangan di Tanjung Morawa, Deli Serdang.
Pembentukan Laskar Pesindo
Pada tahun 1947, Mansyur memimpin Laskar Pesindo di Asahan dan Bunut. Ketika agresi Belanda I terjadi, ia bergabung dengan Brigade XII sebagai Komandan Seksi. Pengalamannya selama masa-masa sulit ini menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan Pengabdian yang Panjang
Pada tahun 1949, ia terlibat dalam gerilya di bawah Komando Troepen Sumatera Timur Selatan sebagai komandan markas pertempuran di daerah terpencil di Sei Kepayang, Asahan. Banyak pengalaman pengabdian, baik dalam tugas militer maupun non-militer, dituangkan dalam buku yang ditulisnya, seperti “Jembatan Emas” dan “Benteng Huraba”.
Perjuangan Yahya Aceh dan rekan-rekannya tidak hanya menciptakan sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menghargai dan memperjuangkan kemerdekaan serta nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pahlawan. Sejarah ini harus terus dihidupkan agar semangat perjuangan tidak pudar seiring berjalannya waktu.




