Tanoto Foundation Mendorong Stimulasi Dini dan Pengasuhan Melalui Rumah Anak SIGAP untuk Perkembangan Optimal Anak

Untuk mencapai potensi maksimal dalam perkembangan anak, diperlukan program pengasuhan dan stimulasi dini yang terjangkau, berkualitas, dan mudah diakses. Program ini dirancang khusus untuk mendukung keluarga dengan anak berusia kurang dari 3 tahun.
Tanoto Foundation dan Program Stimulasi Dini
Medi Yusva, Pimpinan Regional Tanoto Foundation, menjelaskan bahwa peningkatan layanan stimulasi dini menjadi salah satu prioritas utama organisasinya di Sumatra Utara. Program ini diimplementasikan di beberapa wilayah seperti Desa Kutadame, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat. Selain itu, persiapan juga sedang dilakukan untuk memulai program serupa di Kota Medan dan Pematangsiantar.
“Investasi Tanoto Foundation pada pengembangan sumber daya manusia mencakup berbagai aspek penting seperti pencegahan stunting, stimulasi dini, keterampilan pengasuhan anak, kesehatan ibu dan bayi, serta peningkatan kualitas pendidikan prasekolah,” ucap Medi.
Rumah Anak SIGAP: Inisiatif Berbasis Komunitas
Rumah Anak SIGAP merupakan inisiatif komunitas yang diusung Tanoto Foundation. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan layanan stimulasi dini dan pengasuhan yang terjangkau serta berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Inisiatif ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran awal untuk menguji pendekatan layanan stimulasi dini.
“Program ini sudah berjalan sejak tahun lalu di Kabupaten Pakpak Bharat dan saat ini sedang dalam proses kerjasama dengan Badan Perencanaan Daerah di Kota Medan dan Pematangsiantar,” tambah Medi.
Konsep Pengintegrasian Layanan
Medi menekankan bahwa layanan stimulasi dini tidak beroperasi secara independen, melainkan menjadi bagian integral dari praktik layanan kesehatan yang terjadwal dan berkelanjutan. Posyandu misalnya, berfungsi sebagai pusat edukasi publik, membantu orang tua memahami pentingnya stimulasi perkembangan anak.
Edukasi ini diberikan secara berkelanjutan melalui sesi bulanan Posyandu, kegiatan desa, dan kunjungan rumah, didukung oleh media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang sederhana dan mudah dipahami.
Program Layanan Stimulasi Dini
Program layanan ini dilaksanakan melalui sesi stimulasi mingguan per kelompok usia dengan durasi sekitar 45 menit. Setiap sesi dipandu oleh fasilitator dan menggunakan modul aktivitas yang dirancang untuk menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, seperti kognitif, bahasa, motorik, sosial emosional, dan keterampilan dasar.
Ruang kesehatan yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan umum, kini ditata ulang menjadi ruang khusus untuk stimulasi perkembangan anak usia dini. Ruang ini dilengkapi dengan sarana bermain dan belajar yang disesuaikan dengan kelompok usia anak, memungkinkan stimulasi berlangsung lebih terstruktur dan aman.
Pentingnya Sumber Daya Manusia dan Pembagian Peran
Menurut Medi, kesiapan infrastruktur dan pengaturan ruang hanya menjadi prasyarat awal dan belum cukup untuk menjamin keberlanjutan layanan. Kapasitas sumber daya manusia dan pembagian peran yang jelas menjadi faktor penentu dalam menjaga konsistensi pelaksanaan stimulasi.
Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu tenaga kesehatan dan kader, yang biasanya memiliki peran ganda. Oleh karena itu, pentingnya pengaturan jadwal yang realistis dan pembagian tugas yang jelas agar layanan stimulasi dapat berjalan secara rutin tanpa mengganggu layanan kesehatan lainnya.
Stimulasi perkembangan anak bukan lagi dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai bagian dari rangkaian layanan yang berjalan seiring dengan kegiatan Posyandu dan layanan Pustu. “Untuk mencapai ini, dibutuhkan dukungan sistem yang konsisten, sehingga stimulasi perkembangan anak benar-benar menjadi bagian dari praktik layanan kesehatan, bukan sekadar kegiatan tambahan,” pungkas Medi.