Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi Akibat Gagalnya Perundingan AS dan Iran

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mencapai kesepakatan damai mengalami kebuntuan, yang berpotensi mengakibatkan lonjakan harga minyak di pasar global. Ketidakpastian ini muncul di tengah situasi di kawasan Teluk, di mana sejumlah kapal tanker masih terjebak. Gagalnya perundingan ini menciptakan atmosfer kekhawatiran baru, terutama terkait dengan biaya pinjaman dan harga minyak yang diperkirakan akan meningkat.
Kebuntuan dalam Perundingan Damai
Selama 21 jam perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, kedua pihak tidak berhasil menemukan titik temu. Wakil Presiden AS, JD Vance, menuduh Iran mengabaikan permintaan untuk menghentikan program senjata nuklirnya. Di sisi lain, sumber-sumber Iran menyatakan bahwa tuntutan yang diajukan oleh Washington dianggap terlalu berlebihan dan tidak realistis.
Setelah meninggalkan Islamabad pada hari Minggu pagi, Vance mengungkapkan bahwa tim AS telah jelas dalam menetapkan batasan yang tidak bisa dinegosiasikan. Menurut laporan, pernyataan tersebut menegaskan bahwa harapan untuk menyelesaikan konflik ini semakin kecil. Ketegangan ini meningkat sejak 28 Februari, ketika serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel menghantam Teheran.
Dampak Gagalnya Perundingan
Akibat dari kegagalan ini mulai dirasakan secara luas. Lonjakan harga minyak dan gas menambah kecemasan akan inflasi yang dapat melanda banyak negara, yang pada gilirannya dapat memengaruhi daya beli masyarakat secara umum. Beberapa bank sentral bahkan mulai mempertimbangkan kembali rencana penurunan suku bunga sebagai respons terhadap situasi yang berkembang ini.
Di Irlandia, misalnya, lonjakan biaya hidup telah memicu aksi protes di Dublin dalam beberapa hari terakhir. Penasihat Allianz, Mohamed El-Erian, menekankan bahwa ketidakpastian saat ini menjadi masalah utama yang harus dihadapi pasar. Dia berpendapat bahwa tanpa kelanjutan negosiasi dalam waktu dekat, pasar keuangan cenderung merespons dengan kenaikan harga minyak dan biaya pinjaman.
Reaksi Pasar terhadap Ketegangan Geopolitik
El-Erian juga mencatat bahwa seberapa besar dampak penjualan di pasar saham akan sangat bergantung pada persepsi investor mengenai kemungkinan kelanjutan diplomasi antara kedua negara. Ketegangan di kawasan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan Israel terus melancarkan serangan di Lebanon selatan, di tengah kecaman atas serangan yang telah mengakibatkan banyak korban jiwa di Beirut.
Harga Minyak dan Perkembangannya
Pasar sempat merasakan kelegaan saat diumumkannya gencatan senjata dua pekan yang lalu. Kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Meskipun pada hari Rabu harga minyak sempat turun di bawah 100 dolar AS per barel, hingga akhir pekan, minyak Brent masih tercatat pada 94,26 dolar AS per barel. Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan puncak 119,45 dolar AS yang tercatat saat ketegangan memuncak, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik yang berada sekitar 72 dolar AS.
Minyak mentah West Texas Intermediate juga ditutup pada harga 95,63 dolar AS per barel. Di pasar saham, terdapat sedikit optimisme setelah pengumuman gencatan senjata sementara. Indeks S&P 500 di AS hampir kembali ke level sebelum serangan dimulai.
Langkah Arab Saudi untuk Meredakan Kekhawatiran
Arab Saudi berusaha meredakan kekhawatiran pasar dengan mengonfirmasi bahwa pipa minyak timur-barat dan fasilitas lainnya telah dipulihkan setelah serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Saudi Press Agency melaporkan bahwa serangan tersebut sempat mengurangi kapasitas pemompaan hingga sekitar 700 ribu barel per hari.
Risiko Jangka Pendek dan Proyeksi Pasar
Ekonom dari Societé Générale, Wei Yao, memperkirakan bahwa risiko jangka pendek yang lebih mungkin tidak berkaitan dengan terjadinya perang besar, melainkan lebih kepada aksi balas-membalas yang terbatas dan berkepanjangan. Jika hal ini terjadi, pemulihan pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.
Imbas pada Pertemuan IMF dan Bank Dunia
Masalah ini diperkirakan akan membayangi pertemuan musim semi yang diadakan oleh IMF dan Bank Dunia di Washington, yang dimulai pada hari Senin. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memberikan sinyal bahwa lembaganya akan menyajikan tiga skenario, semuanya menunjukkan prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah dan inflasi yang meningkat. Dalam konteks ini, harga minyak yang naik dapat menjadi faktor pendorong utama dalam dinamika ekonomi global yang sedang tidak stabil.