Malam yang sunyi itu menyimpan misteri dalam kegelapan. Angin berhembus lembut, meniup dedaunan bambu yang bergetar pelan, menciptakan suasana yang sekaligus menenangkan dan menegangkan. Di balik rimbun bambu, suara gesekan batangnya menambah kesan magis pada malam tersebut.
Suasana Malam yang Menghanyutkan
Rio, seorang pemuda desa, membuka gorden jendela dengan penuh perhatian. “Malam ini terasa sangat sepi. Sudah larut malam, ya?” pikirnya dalam hati.
Dengan dorongan rasa ingin tahu, Rio mengambil senter dan segera melangkah keluar dari rumahnya. Ia tidak mengunci pintu, hanya menutupnya rapat dan mengganjal bagian bawah pintu dengan selembar kain agar tidak ada yang masuk.
“Benar-benar sepi,” bisiknya, suaranya teredam oleh keheningan malam.
Ia melangkah ke teras dan menyusuri jalan desa yang mengarah ke timur. Rembulan yang bersinar lembut terhalang oleh dedaunan bambu yang lebat, menciptakan bayangan misterius di antara rumah-rumah yang tertutup rapat. Rio terus melangkah menuju sebatang sungai kecil yang terletak di pinggir jalan besar.
Menelusuri Jalanan Desa
Dengan penuh kewaspadaan, pandangan Rio menyapu seluruh area. Ia berhenti sejenak di samping gardu yang sunyi, mengamati tikungan gelap di batas desa yang tidak memiliki penerangan. Suara burung malam sesekali memecah keheningan, menambah kesan suasana malam yang mencekam.
“Ceatt… Ceatt… Ceatt!” Suara burung tersebut menggema di udara, membuatnya mendongak dan melihat bayangan hitam terbang melintasi kegelapan menuju utara. Sementara itu, Rio menunggu kehadiran temannya, Dadap, yang dikenal juga sebagai Bang Mirim. Namun, ketidakhadiran temannya mulai membuatnya merasa cemas. “Mungkin Dadap sudah tertidur,” ia berucap dalam hati dengan sedikit kecewa.
Tiba-tiba, perutnya mulai berdenyut nyeri. Ia memijat perutnya yang terasa mulas. “Aduh, sakit lagi!” keluhnya pelan. Dengan langkah cepat, ia menyeberang menuju gerbang Sekolah Dasar, di mana ia tahu ada aliran sungai kecil yang jernih. Namun, setibanya di sana, ia merasa tempat itu terlalu sempit untuknya.
Pencarian Air di Tengah Kesakitan
Dalam keadaan terdesak, Rio berpaling dan berjalan cepat menuju pematang sawah yang berada dekat jalan besar. “Alhamdulillah, ada airnya,” serunya lega saat menemukan aliran air yang cukup deras. Tanpa berpikir panjang, ia segera jongkok di atas batu kecil yang ada di tepi sungai.
Namun, meskipun perutnya terasa sangat mulas, yang keluar hanya suara angin. “Duuttt!” desahnya penuh rasa frustrasi.
Sambil tetap berjongkok, pandangan Rio melirik ke arah gang desa, tepat di depan balai desa dan madrasah kecil. Secara tiba-tiba, matanya tertuju pada sesuatu yang mencolok. “Apa itu?” tanyanya dalam hati, penuh rasa was-was.
Misteri di Balik Gang
Dari balik kegelapan gang, muncul cahaya terang yang menyerupai kobaran api. Namun, anehnya, cahaya itu tampak hanya berpusat di area sekitar gang tersebut. Jantung Rio berdebar kencang; antara rasa takut dan penasaran, ia berdiri dengan pelan. Ia melepas sandal jepitnya, menggenggamnya erat agar langkahnya tidak menimbulkan suara.
Dengan hati-hati, Rio mendekat, meskipun keraguan sempat membuatnya terhenti sejenak. Ia kembali ke pinggiran pematang sawah, berdiri terpaku sambil mengawasi dari jauh. Akhirnya, dengan keberanian yang dipaksakan, ia maju mendekat. Dalam kesunyian yang mencekam, suara burung malam kembali terdengar di atas kepalanya.
Penemuan yang Mengejutkan
“KRAAKK! KRAAKK! CEAATT!” Suara itu memecah keheningan malam, menyertai langkah Rio yang semakin dekat dengan cahaya misterius tersebut. Begitu jaraknya cukup dekat, napasnya tertahan.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIM!” serunya dalam hati, terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Di hadapannya, terlihat jelas sebuah mata raksasa yang sangat besar, menatapnya tajam dengan sesekali berkedip. Cahaya yang ia kira sebagai api ternyata berasal dari pancaran sinar mata tersebut. Rio terpaku, tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Dalam hati, ia terus melafalkan doa.
Di desa, sosok tersebut dikenal sebagai Mata Setampah.
Intervensi yang Menyelamatkan
Ketika Rio berencana untuk melarikan diri, tiba-tiba ia mendengar bisikan dari balik pagar bambu di dekat pohon cengkeh.
“Hust! Cepat pergi dari tempat ini!” suara itu terdengar tegas dan mendesak.
Rio terkejut. Seorang lelaki setengah tua muncul dari balik semak-semak dengan sarung yang tersampir di lehernya. Itu adalah Wa Lamun, sosok yang dikenal di desa.
“Aku sudah mengamati sosok itu sejak tadi. Jangan dekati, itu sangat berbahaya! Sebaiknya kamu cepat pulang,” ujar Wa Lamun dengan nada serius.
“Iya, Wa. Itu mata yang besar sekali. Apakah itu yang disebut Mata Setampah?” tanya Rio dengan suara bergetar.
“Iya, betul. Segera pulang!” tegas Wa Lamun, menekankan pentingnya keselamatan.
Pelarian ke Rumah
Tanpa menunggu perintah kedua, Rio segera berlari. Ia melangkah cepat memasuki gang desa yang sunyi. Sesekali, ia menoleh ke belakang; Wa Lamun mengikuti dari jauh, seolah memastikan bahwa Rio aman. Dengan peluh dingin membanjiri tubuhnya, ia akhirnya sampai di rumah dan langsung masuk.
Dari balik gorden jendela, Rio mengintip ke luar. Tak lama kemudian, ia melihat Wa Lamun melintas di depan rumahnya. Orang tua itu sempat menoleh ke arah jendelanya sebelum menghilang ke dalam kegelapan menuju rumahnya sendiri.
Malam itu, Rio merasa sulit untuk tidur. Ia duduk di ruang tengah dengan segelas air putih, sementara bayangan mata raksasa itu terus menghantuinya. Ia terjaga hingga suara azan subuh berkumandang dari kejauhan, menandai awal hari baru.
Refleksi di Pagi Hari
Saat fajar menyingsing, perasaan lega menyelimuti hatinya. Pengalaman mencekam itu memberinya keberanian baru. Rio kini percaya bahwa cerita tentang Mata Setampah yang sering dibicarakan orang-orang bukan sekadar mitos belaka—ia telah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.
Jika Anda ingin mendapatkan informasi terbaru dan menarik lainnya, silakan berlangganan untuk menerima berita melalui email.
Ketikkan alamat email Anda di sini…
Berlangganan

