Di tengah maraknya tren kopi di Kota Medan, sosok Syahri Agustin muncul sebagai pahlawan yang sering kali tak terlihat: seorang pedagang kopi keliling. Selama hampir dua tahun, pria yang akrab disapa Bang Syahri ini telah mengabdikan dirinya untuk menjajakan kopi dari merek lokal, Sekian Kopi Medan, dengan penuh dedikasi dan semangat. Dalam perjalanan bisnis yang dinamis ini, ia bukan hanya menjual kopi, tetapi juga membangun hubungan dengan pelanggan dan menghadapi tantangan yang ada di dunia industri kopi.
Rutinitas Harian Pedagang Kopi Keliling
Berbeda dengan pemilik kedai kopi, Syahri bekerja untuk sebuah kedai yang berlokasi di kawasan Amplas. Rutinitasnya sangat terstruktur: ia memulai aktivitas berjualan dari pagi hingga sekitar pukul dua siang di satu lokasi, kemudian berpindah ke Amplas dan melanjutkan hingga pukul enam sore. Dengan pola ini, ia berusaha memaksimalkan potensi penjualan di berbagai titik yang berbeda.
“Dalam sehari, saya bisa menjual antara 70 sampai 80 cangkir kopi,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela aktivitas berjualannya. Namun, tidak semua kopi yang dibawanya selalu terjual habis. Terkadang, ada hari di mana ia hanya mampu menjual sekitar 50 cangkir, dan sisanya harus dikembalikan ke kedai.
Model Kerja yang Fleksibel
Sistem kerja yang dijalani Syahri tidak berbasis pada gaji tetap. Ia memperoleh penghasilan dari komisi setiap cangkir kopi yang terjual, berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per cangkir, tanpa perlu mengeluarkan modal sendiri. “Saya tidak perlu modal, Bang. Hanya membawa kopi saja,” jelasnya dengan percaya diri.
Dengan model kerja seperti ini, Syahri berjualan selama delapan hingga sepuluh jam setiap harinya. Jika stok kopi yang dibawanya habis lebih cepat dari yang diperkirakan, misalnya sebelum sore, ia memiliki opsi untuk mengambil tambahan (refill) agar dapat melanjutkan penjualannya. Meskipun tidak ada pengawasan ketat dari pihak kedai saat ia berjualan, ia tetap bertanggung jawab untuk melaporkan hasil penjualannya.
Tantangan dalam Persaingan Usaha Kopi
Dalam situasi persaingan yang ketat di industri kopi di Medan, Syahri menjelaskan bahwa kunci untuk bertahan adalah menjaga konsistensi rasa dan kualitas pelayanan kepada pelanggan. “Konsistensi dalam rasa dan pelayanan sangat penting. Saya selalu berusaha memberikan pengalaman bintang lima kepada pelanggan,” ujarnya sambil tersenyum.
Harapan untuk Membangun Usaha Sendiri
Meskipun saat ini ia masih berperan sebagai pedagang keliling untuk usaha orang lain, Syahri memiliki cita-cita untuk suatu hari membangun usahanya sendiri. Pengalaman berjualan selama hampir dua tahun ini memberinya pemahaman mendalam tentang dunia bisnis kopi. “Ada keinginan untuk membuka usaha sendiri,” ungkapnya singkat, menutup perbincangan.
Ekonomi Informal dan Dampaknya pada Tren Kopi
Kisah Syahri mencerminkan bagian kecil dari denyut ekonomi informal yang berkontribusi pada tren kopi di Kota Medan. Usaha yang tidak hanya berkembang dari kedai-kedai terkenal, tetapi juga melalui langkah-langkah para penjaja kopi yang setia menelusuri jalan-jalan kota setiap hari. Peran mereka sangat penting dalam mendukung ekosistem kopi lokal, memberikan variasi dan akses kepada konsumen.
- Pedagang kopi keliling seperti Syahri berkontribusi pada ekonomi lokal.
- Konsistensi rasa dan pelayanan menjadi kunci pertahanan dalam persaingan.
- Model kerja fleksibel memberikan peluang bagi pedagang untuk beradaptasi.
- Harapan untuk memiliki usaha sendiri menjadi motivasi bagi banyak pedagang kopi.
- Ekonomi informal memperkuat keberagaman dalam industri kopi di Medan.
Dalam industri kopi yang terus berkembang, seperti yang ditunjukkan oleh cerita Syahri, penting bagi setiap pelaku usaha untuk memahami dinamika pasar dan menciptakan hubungan yang baik dengan pelanggan. Dengan komitmen terhadap kualitas dan pelayanan, mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun komunitas yang saling mendukung. Melalui usaha keras dan dedikasi, perjalanan Syahri menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin terjun ke dunia bisnis kopi di Medan.
